Luhut Sebut Omnibus Law Selesai Akhir Bulan dan Erick Bicara Resesi

Luhut Sebut Omnibus Law Selesai Akhir Bulan dan Erick Bicara Resesi 2

JAKARTA, lintasbarometer.com

Omnibus Law yang sedang digodok pemerintah bersama DPR dikabarkan bakal selesai akhir bulan ini. Kabar yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan itu langsung menyita perhatian publik.

Tak heran informasi tersebut menjadi salah satu berita populer kumparanBisnis. Berita tersebut dirangkai dengan Menteri BUMN Erick Thohir yang berbicara mengenai resesi dan perkara impor barang dari China.

Berikut ini selengkapnya berita populer kumparanBisnis sepanjang hari Sabtu (15/8):

Omnibus Law Diharapkan Selesai Akhir Bulan Ini

Rancangan Undang-undang (RUU) Cipta Kerja untuk menjadi produk hukum yang sah berupa UU sedang dibahas pemerintah. RUU Cipta Kerja dikenal juga sebagai Omnibus Law karena aturan ini cakupannya sangat luas hingga dapat merevisi banyak undang-undang sekaligus.

Luhut mengatakan, RUU Cipta Kerja dibuat untuk mendorong investasi masuk. Dia juga mengklaim RUU ini akan menciptakan lapangan kerja.

“Prosesnya ini kita berdoa mudah-mudah jadi akhir bulan ini atau paling lambat mungkin awal bulan depan,” kata dia dalam sambutannya di acara Dies Natalis IV Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia secara virtual, Jumat (14/8).

Menurut Luhut, Omnibus Law dibuat pemerintah untuk menyederhanakan berbagai perizinan dan syarat investasi agar mudah masuk. Dengan begitu, lapangan pekerjaan akan tercipta.

Dia mengatakan, selama ini Indonesia kalah saing dengan Vietnam, Malaysia, dan Singapura dalam hal investasi. Padahal, Indonesia negara yang besar.

Erick Thohir Bicara soal Resesi
Ketua Pelaksana Harian Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir, meyakini kondisi ekonomi Indonesia akan lebih baik dibandingkan negara lain yang telah terperosok ke jurang resesi.
Menurut Erick Thohir, perekonomian Indonesia akan baik-baik saja ke depan. Dia menjelaskan, data pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen, dinilai lebih baik dibandingkan Singapura minus 13 persen, Filipina minus 16 persen, Malaysia minus 17 persen.”Kalau bukti seperti ini, kenapa kita mesti pesimistis? Kita yakin ke depan kita akan baik,” kata Erick di Milenial Fest, Sabtu (15/8).
Menteri BUMN itu menuturkan, data perekonomian Indonesia yang lebih baik dari negara lain, salah satunya didorong oleh keputusan pemerintah tidak melakukan karantina wilayah atau lockdown.
Erick Thohir Anggap China Juga Perlu Produk RI
Ketua Pelaksana Harian Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), Erick Thohir, menjelaskan bahwa kondisi akibat pandemi COVID-19 bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk mendorong perekonomian dan memanfaatkan peluang. Menurut Erick, saat ini yang terpenting adalah Indonesia sehat. Baru setelahnya, Indonesia mulai tumbuh dengan memanfaatkan pasar yang potensial.Dia melanjutkan, negara di kawasan Asia Timur dan Selatan yang dinilai potensial bagi Indonesia adalah China dan India. Kedua negara ini dinilai Erick sangat memerlukan produk dari Indonesia.”Ada tetangga kita, China dan India, perlu macam-macam dari kita. Jangan kebalik, kita diimpor terus. Kita yang kirim ke mereka, terutama produk yang namanya maritim,” jelasnya.
Sebagai negara maritim, kata Menteri BUMN itu, Indonesia seharusnya bisa menjadi nomor satu di sektor maritim. Selain itu juga ketahanan pangan, energi, dan kesehatan.
sumber: Kumparan

Luhut Sebut Omnibus Law Selesai Akhir Bulan dan Erick Bicara Resesi 3