Topeng “Menantu Bisu dan Tuli”

Topeng "Menantu Bisu dan Tuli" 2

Lintasbarometer.com

Istriku itu seorang pramugari cantik, dan aku hanya seorang pria kampung biasa. Banyak orang yang iri dengan kehidupanku, tapi tidak ada yang tahu seberapa banyak kepahitan dan penghinaan hidup yang kujalani.

Aku dan istriku dikenalkan oleh seorang teman, dia bekerja di sebuah agen perkawinan, waktu itu dia yang menemukanku dan mengatakan ada seorang wanita yang mencari pasangan, kriteriaku sangat memenuhi syarat.

Syarat pernikahannya sangat aneh: Menantu pria tinggal dirumah mertua, jujur, sifat lemah lembut, dan tuli.

Orang tua ku meninggal lebih cepat, aku mempunyai adik perempuan berusia 16 tahun, adikku menderita penyakit anemia akut, dari dulu beban hidupku sangat berat, dan sifatku juga sangat tertutup, bahkan bisa dikatakan sangat hina, kriteria ini sangat cocok dengan diriku. Meskipun aku tidak suka berbicara, tapi aku tidak tuli!

Temanku bilang wanita ini sangat kaya, dan akan memberikan mahar yang banyak, ucapannya ini membuat hatiku terguncang, terlebih biaya pengobatan adikku setiap tahun membutuhkan biaya yang sangat besar, aku sama sekali tidak bisa membiayainya, jadi aku benar sangat ingin ‘menikah’dengan wanita ini.

Hingga akhirnya temanku mengajukan satu ide untukku, pihak perempuan mencari menantu yang tuli, pasti takut laki-laki ini banyak bicara, dan hanya ingin mempunyai garis keturunan saja, seharusnya tidak ada rahasia lain, dia menyuruhku pura-pura bisu, atau menjadi si tuli yang mengenal huruf.

Dia bahkan mengatakan selama bisa membohongi mereka selama tiga sampai lima bulan, nanti setelah menikah ketahuan juga tidak masalah.

Aku mendengarkan sarannya, pertama kali kami bertemu di cafe teh dekat bandara, ketika melihat wanita itu, aku terbengong, aku mengira dia wanita tua jelek, tidak disangka ternyata dia seorang pramugari, waktu itu dia masih mengenakan seragam pramugari, tidak usah ditanya seberapa cantiknya dirinya.

Dia hanya beberapa kali menatapku, lalu menggunakan Hp mengetik beberapa kata berkomunikasi denganku, kemudian pergi.

Namanya Claura, lebih tua empat tahun dariku, aku merasa dia sangat dingin dan meremehkanku, dan seharusnya tidak tertarik padaku.

Aku tidak menyangka, tiga hari kemudian mendapat pemberitahuan dari dirinya, yang isinya kalau aku tidak keberatan kita bisa menikah.

Tentu saja aku tidak keberatan, aku merasa bagai hidup dalam mimpi, tidak tahu apa yang di sukainya dari diriku. Lalu Claura membawaku ke rumahnya dan bertemu orangtuanya.

Aku hanya melihat ibu Claura, dia terlihat sangat muda, memakai baju Cheongsam ketat, kulitnya terawat dengan baik, kalau dibilang kakak Claura aku pasti percaya.

Claura memperkenalkanku kepada ibunya, dan mengatakan aku tuli, tidak nyaman untuk berkomunikasi, tapi orangnya sangat baik, bahkan dulu pernah menyelamatkan hidupnya, memiliki tanggung jawab, dan mengatakan dia sangat menyukaiku, Claura berharap ibu menyetujuinya.

Ibu Claura menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah melihat sebuah mainan.

Mereka kira aku benar-benar tidak bisa mendengar, lalu berkomunikasi dengan sembarangan, hingga akhirnya ibunya mengatakan tampangku lumayan ganteng, tubuhku kekar, hanya saja tuli.

Claura mengatakan dia suka padaku karena tidak bisa mendengar, dan tidak bisa berbicara, dengan begitu Claura bisa mempunyai waktu me time lebih banyak, ibunya juga tidak mengatakan apa-apa, seolah telah menyetujui.

Ketika kita makan bersama, ibunya diam-diam melirikku, seolah masih mengamati dan mengujiku.

Satu minggu kemudian, aku dan Claura menikah, kita tidak mengadakan pesta pernikahan yang meriah, hanya upacara pernikahan yang sederhana, lebih kurang ada sekitar sepuluh kerabat yang datang, mungkin karena takut banyak orang tahu aku tuli, dan merasa malu.

Malam harinya, aku dan Claura masuk ke kamar pengantin.

Claura mengetik di Hp, menyuruhku mandi, lalu aku pergi mandi tergesa-gesa, setelah itu gantian Claura yang pergi mandi, dan aku menunggunya di tempat tidur.

Setelah keluar dari kamar mandi, Claura hanya mengenakan sepotong piyama renda ungu, itu membuatku malu, walaupun kami sudah menikah, aku merasa ada perasaan yang kurang atau ada sesuatu yang sama sekali tidak bisa dilepaskan.

Dengan cepat dia pergi ke tempat tidur dan melepas piyamanya.

Tepat saat ini, dia tiba-tiba mematikan lampu, lalu menarik selimut, menutupi tubuh kita. Dia perlahan-lahan menunjukkan Hp padaku, dia mengetik memo: Ibuku memasang CCTV di kamar, harap kerja sama.

Aku yang melihat ini sedikit bingung, apa artinya ini?

Dan dengan cepat Claura membuka memo berikutnya, kali ini sebuah paragraf panjang, setelah membacanya aku mengetahui apa yang terjadi.

Claura mengatakan alasan dia menikah denganku hanya untuk mengatasi ibunya saja, sebenarnya Claura bermaksud untuk tidak menikah seumur hidup. Dan dulu dia pernah mencari pacar palsu untuk membohongi ibunya, tapi ketahuan, jadi ibunya sudah tidak percaya padanya, oleh karena itu Claura mencari aku yang alim dan tuli untuk menikah, karena aku disabilitas, tidak begitu ada kemungkinan merusak hidupnya.

Ibu Claura memasang kamera di kamar untuk memastikan Claura tidak menipunya kali ini, ibunya hanya ingin melihat apakah kita akan tidur sekamar atau apa, karena ibunya sangat ingin menimang cucu.

Melihat ini, seluruh tubuhku lemas, wanita cantik seperti Claura bagaimana mungkin bisa menyukaiku, ternyata semua ini hanya sebuah trik, aku tidak lain hanyalah sebuah mainan.

Tiba-tiba aku merasa sedih dan rendah diri.

Tapi pada saat ini, Claura tiba-tiba melototiku lagi, menyuruhku untuk bekerja sama dengannya……

Kira-kira setelah setengah jam kemudian kita baru selesai.

Setelah itu, Claura bangkit dan mengenakan piyama ungu, duduk di ujung tempat tidur, menyalakan sebatang rokok panjang. Dan aku memasukkan kepalaku ke dalam selimut tidak berani keluar.

Mungkin pasang surut kehidupan seseorang datang terlalu cepat, air mata berkumpul di mata, tapi pada akhirnya aku berhasil menahannya untuk tidak menangis, aku hanya berpikir, apakah sepanjang hidupku akan seperti ini, tidak ada kesempatan untuk menjadi pria sejati? Bahkan tidak bisa menyentuh istri sendiri?

Tapi aku juga tidak berani membayangkannya, hingga akhirnya malam itu dilewati dalam keheningan.

Beberapa hari berikutnya, Claura tidak pergi bekerja, mungkin karena sedang cuti nikah, dan karena aku tuli, Claura tidak begitu banyak bicara denganku. Hari-hari yang kulewati sangat sederhana, setiap hari membersihkan rumah, merawat dan menyiram bunga, meskipun tampak santai, tapi aku merasa sangat membosankan, apa daya aku hanya seorang menantu yang dinikahi anak perempuannya, aku yang menikah dengan keluarganya.

Seminggu kemudian, cuti nikah Claura habis, dia kembali bekerja, dan hidupku masih tetap membosankan, setiap hari didalam kamar tidak keluar, karena takut ibu Claura masih mengamatiku.

Ku pikir seumur hidupku hanya akan seperti ini, meskipun santai, tapi setidaknya normal, aku tidak habis pikir, ini hanya awal mula dari penghinaanku dimulai.

Malam itu, ketika aku sedang menonton TV di lantai atas, tiba-tiba aku mendengar pertengkaran dilantai bawah antara Claura dan ibunya, tampaknya Claura baru kembali setelah liburan.

Aku mendengar ibu Claura menanyakannya: “Claura, sebenarnya kamu sudah hamil belum?”

Claura menjawab dengan tidak senang: “Belum, mana ada begitu gampang, aku curiga Alwi tidak bisa. Sekarang aku tidak ada waktu, tunggu cuti tahunan, ku bawa Alwi pergi periksa.”

Mendengar ini, otakku terbodoh, kamu yang sama sekali tidak membiarkanku menyentuhmu, malah mengatakanku tidak bisa!

Pada saat itu, Alwi merasa malu dan bersalah, serta ingin keluar memberitahu ibunya, semua ini hasil rekayasa Claura untuk menipumu, tapi Alwi tidak berani, karena takut kehilangan kehidupannya yang sekarang. (Lbr/webread)

Topeng "Menantu Bisu dan Tuli" 3