Budaya Literasi di Sekolah

Budaya Literasi di Sekolah 2
Ernita , S.Pd Guru  Ekonomi SMAN   3 Duri.

BENGKALIS, litaabarometer.com

Gerakan literasi sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Ditinjau dari tujuan secara umum literasi adalah menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam gerakan literasi agar menjadi pembelajaran sepanjang hayat.

Masalah literasi ini nampaknya masih menjadimasalah yang benar-benar harus dicari jalan keluarnya. Karena sebagaimana menurut UNISCO, sekarang ini paling tidak ada sekitar 750 juta orang dewasa dan 264 juta anak yang putus sekolah yang kemampuan literasi dasarnya masih minim.

Literasi di Indonesia masih sangat rendah ini dapat kitalihat berdasarkan data statistik UNISCO bahwa Indonesia memiliki tingkat literasi yang rendah, Indonesia memiliki peringkat 60 dari total 61 negara. Ini jelas menunjukkan bahwa minat baca Indonesia sangat rendah, bahkan sangat jauh tertinggal dari Singapura serta  Malaysia.

Kita bandingkan dengan masyarakat Amerika atau Eropa yang anak-anaknya dalam waktu satu tahun saja sudah membaca sekitar 25-27 buku Jepang dengan minat baca 15-18 persen buku per tahun, berbanding terbalik dengan Indonesia yang jumlahnya sekitar0,01 persen per tahunnya.

Oleh karena itu pemerintah kemudian menggerakkan, menggiatkan literasi sekolah yang lebih diarahkan pada anak-anak usia sekolah.  Pemerintah dengan sengaja mengadakan gerakan ini dengan harapan bisa menumbuhkan minat baca siswa sekalipun dengan konsekwensi ada beberapa daerah tertentu yang terpencil masih belum mampu untuk membeli buku.

Budaya membaca di Indonesia masih sangat sulit, hal inidisebabkan ada beberapa factor penyabab rendahnya minat bacapada masyarakat Indonesia antara lain:

1. Kebiasaan membaca belum ditanamkan sejak dini
2. Kualitas sarana pendidikan yang masih minim dan akseske fasilitas pendidikan juga belum merata.
3. Kegiatan belajar dan mengajar serta panjangnyabirokrasi di dalam dunia pendidikan di Indonesia.
4. Produksi buku di Indonesia masih dianggap kurang.

Hal ini terjadi karena penerbit di daerah belum berkembang. Adanya wajib pajak bagi penulis yang bahkanroyalitinya saja masih rendah.

Dari beberapa kelemahan-kelemahan diatas, kegiatan literasi dapat diwujudkan dalam beberapa program literasi antara lain; Jadwal wajib kunjung Perpustakaan, pemberdayaan Mading setiap kelas, membaca buku non pelajaran sebelum proses belajar di mulai.

Posterisasi sekolah  membuat pohon literasi di setiap kelas, membuat sudut baca di beberapa tempat di sekolah, membuat papan litersi siswa di setiap kelas, membuat dinding motivasi di setiap kelas, mengadakan lombaduta litersi  sekolah, mengadakan lomba karya literasiantar kelas.

Selain beberapa contoh kegiatan literasi kita sebagai guru wajib mengetahui beberapa hal penting dalam melaksanakan literasi antara lain;  berikan keteladanan kepada para siswa supaya siswa menjadi tergugah saat melihat para gurunya membaca.

Tidak hanya guru saja, ini juga perlu dilakukan oleh semua wargasekolah termasuk kepala sekolah bahkan kalau perluhingga penjaga sekolah juga, berikan akses yang mudahsupaya siswa bisa tertarik mendatangi perpustakaan, bilatidak tersedia perpustakaan di sekolah, setidaknyasediakan pojok bacadi setiap kelas.

Pelaksanaan contoh program gerakan literasi di sekolah memang tidaklah mudah, sehingga salah satu syarat keberhasilannya juga adalah telaten dan berkelanjutan.

Program sekreatif apapun jika hanya semangat melakukannya di awal-awal pelaksanaan sedangkan selanjutnya tidak berkelanjutanmaka ini jug apercuma, dan juga dukungan dari beberapa pihaksekolah sangat menentukan.

Terutama kita sebagai guru harus bisa menjadi tauladan dan duta literasi bagi siswanya. (Artikel / Ernita S.Pd)

Budaya Literasi di Sekolah 3