Kisah Pilu Keluarga Korban Pencabulan Pertanyakan Laporan yang Stagnasi?

Kisah Pilu Keluarga Korban Pencabulan Pertanyakan Laporan yang Stagnasi? 2

ROHUL, lintasbarometer.com

Sudah lebih sebulan perempuan 30 tahun ini selalu merenungkan ketika menatap wajah anak gadisnya yang masih berusia 3 tahun, air matanya langsung berlinang membasahi wajah wanita paruhbaya tersebut.

Adapun yang membuat hatinya semakin tak karuan yaknj, sudah sebulan lebih dia (orangtua korban) melaporkan dugaan kasus pencabulan yang menimpa anaknya ke Polisi Resort Rokan hingga saat berita ini dipublikasikan belum ada kejelasan dari pihak penyidik.

Hal ini langsung disampaikan orangtua korban DMS kepada media mandiri grouop/Lintas Barometer.com, Minggu (26/4/2020) dikediamannya.

Anaknya sebut saja bung yang berusia 3 tahun di duga sudah digagahi oleh 3 pelaku remaja tanggung yakni diantaranya,berinisial RA (18th) siswa yang masih duduk dibangku kelas III SMA, kemudian pelaku ke Dua berinisial EDD (15 th) siswa yang duduj dikelas III SMP dan terakhir pelaku ketiga berinisial R (6th) yang duduk dibangku sekolah kelas satu SD.

DMS menyebut, ketiga remaja tanggung tersebut masih warga sekitar rumahnya di kawasan Rantau Kasai Kecamatan Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu, Riau, yang mana keluarga DMS (korban) tinggal di perumahan PT Torganda lantaran suaminya, DS (34 th) merupakan pegawai karyawan produksi di Pabrik Kelapa Sawit perusahaan itu.

“anak saya sering menyebut nama anak SMP itu, kata anak saya (ucap orangtua korban) sambil menceritakan kronologis kejadian,  jari si laki-laki (pelaku seksual) itu dimasukkan ke kemaluannya dan (maaf), alat vital laki-laki itu kemudian dipaksa masuk ke kemaluan anak saya,” cerita DMS Sabtu (25/4/2020) malam.

Suara perempuan ini terdengar getir, lalu melanjutkan ceritanya; waktu itu, 11 Maret 2020 sekitar pukul 20.00 Wib, Bunga diajak jalan-jalan oleh tiga laki-laki yang di duga kuat pelaku seksual tersebut, saat itu saya sama sekali tidak merasa curiga lantaran anak saya memang sudah biasa diajak jalan oleh mereka terlebih mereka juga masi warga kami, namun sepulang jalan-jalan, anak saya langsung mau tidur, seperti biasa, sebelum tidur dia ke kamar mandi dulu buang air kecil, tapi malam itu saya benar-benar dibikin kaget lantaran saat buang air kecil, anak saya menangis kesakitan.

Merasa penasaran, saya langsung menyuruh anak saya berbaring di tempat tidur disanalah saya melihat  kemaluannya, warnanya merah menghitam, lecet, kayak disiram air panas

Melihat halbtersebut, saya langsung menagis histeris dan mengangguk-mengangguk melihat kondisi anak saya yang merintih kesakitan pada bagian vitalnya.

Suami saya juga tak terima anak kami diperlakukan seperti itu. Bunga langsung kami bawa ke rumah sakit Surya Insani di Pasir Pangaraian untuk divisum hasilnya, anak kami disebut telah menjadi korban pencabulan.

Lantaran hasilnya seperti itulah makanya kami melaporkan kejadian itu ke Polres Rokan Hulu pada 16 Maret 2020 lalu. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut laporan itu.

Jujur kami sedih dan tidak terima anak kami diperlakukan seperti itu, Anak kami masih sangat kecil bang, pelakunya sudah berumur 15 dan 18 tahun, mereka pantas dihukum seberat-beratnya. Kami sangat berharap polisi segera menangkap para pelaku itu dan memproses laporan kami yang sampai saat ini terkesan stagnasi”pinta keluarga korban.

Kasat Reskrim Polres Rokan Hulu, AKP Aslely Farida Turnip ketika dikonfirmasi belum merespon pertanyaan awak media terkait kejadian yang menimpa Bunga.(h.nst/AWI)

Kisah Pilu Keluarga Korban Pencabulan Pertanyakan Laporan yang Stagnasi? 3